IMG-20260629-WA0278

Tiga Nelayan Tewas di Dalam Palka KM Pulau Samosir, Diduga Terpapar Gas Berbahaya

BELAWAN  || MATANEWSTV.com— Misi mencari nafkah di tengah laut berubah menjadi tragedi. Tiga anak buah kapal (ABK) KM Pulau Samosir meninggal dunia setelah diduga mengalami paparan gas berbahaya atau kekurangan oksigen saat berada di dalam palka kapal di perairan Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, Senin (31/8/2026).

Ketiga korban masing-masing Iwan (51), Garto (50), dan Mamat (45). Ketiganya merupakan nelayan yang menjadi bagian dari sembilan ABK KM Pulau Samosir.

Peristiwa tragis itu bermula setelah KM Pulau Samosir bertolak dari Gudang Buncuan Gabion, Kelurahan Bagan Deli, Belawan, sekitar pukul 02.30 WIB untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Garto masuk ke palka bagian depan kapal untuk melakukan pembersihan. Namun, saat berada di dalam palka, Garto tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Mamat kemudian berupaya memberikan pertolongan dengan masuk ke dalam palka. Namun, upaya tersebut justru membuat Mamat mengalami kondisi serupa dan ikut tidak sadarkan diri.

Melihat dua rekannya dalam kondisi tersebut, Iwan kemudian mencoba memberikan pertolongan. Nahas, Iwan juga ikut tidak sadarkan diri setelah berada di dalam palka.

Nakhoda KM Pulau Samosir, Yusri M. Jamil, yang mengetahui kejadian itu segera mengambil tindakan untuk mencegah jatuhnya korban tambahan. Ia melarang ABK lainnya mendekati palka dan memutuskan memutar haluan kapal kembali menuju daratan.

KM Pulau Samosir akhirnya tiba di Gudang Buncuan Gabion sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah menerima laporan dari pengurus gudang, personel Posal Medan Labuhan bergerak ke lokasi untuk membantu proses evakuasi.

Evakuasi ketiga korban mulai dilakukan sekitar pukul 16.05 WIB dengan melibatkan personel Posal Medan Labuhan bersama ABK kapal. Ambulans juga disiagakan untuk mendukung proses evakuasi.

Baca juga   Polsek Indrapura Gelar “Minggu Kasih”, Berikan Bantuan kepada Warga Lansia di Desa Tanjung Sioare

Setelah proses berlangsung sekitar satu setengah jam, ketiga korban berhasil dievakuasi dari dalam palka pada pukul 17.30 WIB. Jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju rumah duka masing-masing untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) I melalui Posal Medan Labuhan turut melakukan penanganan terhadap insiden tersebut dan melaporkan kejadian kepada komando atas.

Analisis awal menyebut kondisi di dalam palka diduga berkaitan dengan paparan gas berbahaya atau rendahnya kadar oksigen. Namun, penyebab pasti kematian ketiga nelayan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kodaeral I mengingatkan pentingnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di sektor maritim, terutama ketika ABK akan memasuki ruang tertutup seperti palka.

Pemeriksaan kondisi udara dan memastikan sirkulasi atau ventilasi yang memadai dinilai menjadi langkah penting sebelum seseorang memasuki ruang tertutup untuk mencegah kecelakaan serupa.

Tragedi tersebut kembali menjadi pengingat bahwa aktivitas melaut memiliki risiko tinggi. Bagi para nelayan, keselamatan kerja bukan sekadar prosedur, tetapi menjadi bagian penting dalam memastikan mereka dapat kembali kepada keluarga setelah menjalankan pekerjaan di tengah laut.

(Dispen Kodaeral I)

(AH)

IMG-20260814-WA0199IMG-20260810-WA0076

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *