SINEWS.ID, JAKARTA – Memasuki momentum awal tahun baru Islam di bulan Muharram, umat Muslim di berbagai penjuru dunia bersiap menyambut kehadiran dua ibadah sunah yang memiliki keutamaan besar (sunah muakkadah), yaitu Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura. Kedua puasa ini ditunaikan secara berurutan pada tanggal 9 dan 10 Muharram dengan keistimewaan utama mampu menghapus dosa setahun yang lalu.
Berdasarkan rekam sejarahnya, Puasa Asyura (10 Muharram) awalnya merupakan ibadah yang sudah mengakar bagi kaum Quraisy pada zaman jahiliah. Ritual ini juga dijalankan oleh kaum Yahudi di Madinah sebagai ekspresi rasa syukur atas pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Saat Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah dan melihat tradisi tersebut, beliau menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak atas Nabi Musa, sehingga beliau memerintahkan umatnya untuk berpuasa Asyura.
Guna memberikan pembeda (tasyabbuh) antara ritual ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah SAW kemudian merencanakan untuk turut mengiringinya dengan melaksanakan Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram di tahun berikutnya. Meskipun beliau wafat sebelum sempat menunaikannya, anjuran untuk melengkapi puasa tanggal 10 dengan tanggal 9 Muharram tetap menjadi sunah yang dipegang teguh oleh para sahabat dan ulama hingga saat ini.
Bagi umat Muslim yang berniat mengamalkan kedua puasa sunah ini, berikut adalah panduan lengkap bacaan niat yang dapat dilafalkan:
1. Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram) Dilaflakan pada malam hari sebelum terbit fajar menjelang tanggal 9 Muharram:
$$ \text{نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّاسُوعَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى} $$
-
Transliterasi: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ.
-
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Tasu’a esok hari karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Puasa Asyura (10 Muharram) Dilafalkan pada malam hari sebelum terbit fajar menjelang tanggal 10 Muharram:
$$ \text{نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْعَاشُورَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى} $$
-
Transliterasi: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil Âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
-
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah Ta’ala.”
Mengacu pada kalender resmi yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada pertengahan tahun masehi 2026.
Berdasarkan perhitungan tersebut, pelaksanaan Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram) di Indonesia dijadwalkan berlangsung pada pertengahan bulan Juli 2026 mendatang.
Para ulama senantiasa mengingatkan bahwa esensi dari bulan Muharram tidak melulu soal menahan lapar dan haus melalui ibadah puasa semata.
Perlu diingat bahwa Muharram merupakan salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan yang disucikan), di mana setiap amal kebaikan yang dikerjakan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, begitupun sebaliknya bagi perbuatan dosa.
Oleh sebab itu, selain memperkuat ibadah dengan Puasa Tasu’a dan Asyura, umat Muslim juga sangat dianjurkan meningkatkan amalan sosial kemanusiaan. Beberapa di antaranya meliputi memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, mengintensifkan tadarus Al-Qur’an, hingga menjaga kedamaian di lingkungan sekitar.
Menjadikan gerbang Muharram sebagai momentum transformasi spiritual mutlak diperlukan demi membangun kualitas diri yang lebih baik.






