Tradisi Sembahyang Tebu di Medan Utara Melambangkan Harapan dan Rasa Syukur

Agama, Medan100 Dilihat

MATANEWSTV com | | Medan Utara,- Di tengah semaraknya perayaan Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili, sebagian kecil suku Hokkian di Medan Utara, tepatnya di kawasan kompleks Tzu Chi, Perumahan Komplek Simpang Kantor Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, tengah bersiap untuk menggelar ritual “Sembahyang Tebu“. Sabtu malam (17/2/2024),

Tradisi ini dilakukan 13 hari setelah Tahun Baru Imlek, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan dewa-dewi, serta untuk memohon berkah dan rezeki di tahun yang baru.

Sembahyang tebu ini melambangkan harapan agar di tahun naga ini, kita semua selalu sehat, murah rezeki, panjang umur, dan mewujudkan Indonesia yang selalu maju dan makmur,” ungkap Rudi, salah satu warga Tionghoa yang mengikuti ritual tersebut.

Berbeda dengan ritual sembahyang pada umumnya, Sembahyang Tebu tidak perlu dilakukan di vihara. Ritual ini cukup dilakukan di teras atau halaman rumah dengan menggunakan dupa, hio, baju Thi Kong, dan sejumlah makanan untuk persembahan.

Yang membedakan adalah hari pelaksanaannya dan tentu saja, disertakan pula batangan tebu yang telah dihias.

Menurut Rudi, tradisi Sembahyang Tebu berawal dari kisah masa lampau saat suku Hokkian terjebak di tengah pertempuran saat pergantian tahun. Tersembunyi di ladang tebu, mereka tidak bisa beribadah dan merayakan Imlek. Barulah pada hari kedelapan mereka keluar dan merayakan Imlek, tradisi yang kemudian terus dilestarikan hingga saat ini.

Semarak Sembahyang Tebu di Medan Utara menjadi bukti kekayaan budaya dan tradisi Tionghoa di Indonesia. Di tengah modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat untuk selalu menjaga nilai-nilai leluhur dan menjalin hubungan erat antar umat beragama. *Nain**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *